I Made Riko Adi Saputra. Powered by Blogger.
Showing posts with label motivasi. Show all posts
Showing posts with label motivasi. Show all posts

Thursday, 28 June 2012

Masalah Adalah Hadiah

Optimisme adalah memandang hidup ini sebagai persembahan terbaik. Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja dan mengalir sia-sia. Pasti ada tujuan. Pasti ada maksud. Mungkin anda pernah mengalami pengalaman buruk yang tak menyenangkan, maka keburukan itu hanya karena anda melihat dari salah satu sudut mata yg berkaitan uang saja.
Bila anda berani menengok ke sisi yang lain, anda akan menemukan pemandangan yang jauh berbeda. Anda tidak harus menjadi orang tersenyum terus atau menampakkan wajah yang ceria.
Optimisme terletak di dalam hati, bukan hanya terpampang di muka. Jadilah optimis, karena hidup ini terlalu rumit untuk dipandang dengan mengerutkan alis dan muka.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiQWjnj888bQxxXJ1b8IzFUTejHmcV3YGRIHNQy3n3m8mz0E-G1hZzknqwM3vAfYO_FAG8sy6aNdGOi-Qli33mVtDjT4EnF4Bl3WBLychcywn3Cyj0dnkJ83E4niUs17hEZEXGIVKuNFCSY/s1600/masalah+adalah+hadiah.jpgSetiap tetes air yang keluar dari mata air tahu mereka mengalir menuju ke laut. Meskipun melalui anak sungai, belokan, kawasan kali keruh, danau dan muara, mereka yakin perjalanan mereka bukan tanpa tujuan. Bahkan, ketika menunggu di muara, setiap tetes air tahu, suatu saat panas dan angin akan membawa mereka ke pucuk-pucuk gunung. Menjadi awan dan menurunkan hujan. Sebagian menyuburkan rumput, sebagian tertampung dalam sumur-sumur atau telaga. Sebagian kembali ke laut. Adakah sesuatu yang sia-sia dari setiap tetes air yang anda temui?
Masalah Adalah Hadiah.
Bila anda menganggap masalah sebagai beban, anda mungkin akan menghindarinya atau menjauhinya. Bila anda menganggap masalah sebagai halangan, anda mungkin akan menghadapinya. Namun, masalah adalah hadiah yang dapat anda terima dengan suka cita. Dengan pandangan tajam, anda melihat kejayaan di balik setiap masalah.
Masalah adalah anak tangga menuju kekuatan yang lebih tinggi. Maka, hadapi dan ubahlah menjadi kekuatan untuk kesuksesan anda. Tanpa masalah, anda tak layak memasuki jalur kesuksesan. Bahkan hidup ini pun masalah, karena itu terimalah sebagai hadiah.
Hadiah terbesar yang dapat diberikan oleh induk elang pada anak-anaknya bukanlah serpihan-serpihan makanan pagi. Bukan pula, dekapan hangat di malam-malam yang dingin. Namun, ketika mereka melempar anak-anak itu dari tempat yang tinggi.
Detik pertama anak-anak elang itu menganggap induk mereka sungguh keterlaluan, menjerit ketakutan, matilah aku. Beberapa ketika kemudian, bukan kematian yang mereka terima, namun kesejatian diri sebagai elang, yaitu terbang. Bila anda tidak berani mengatasi masalah, andatidak akan menjadi seseorang yang sejati.
Read More

Sunday, 3 June 2012

Belajar Dari Semut, Filosofi Kerja


Melihat kebiasaan semut, saya meletakkan segenggam nasi yang jaraknya tak terlampau jauh dari sebuah sarang semut. Setelah menunggu tak lebih dari lima menit secara tidak diduga datang serombongan semut mendekati nasi tersebut. Dan kemudian mereka mengangkat sebutir nasi secara satu persatu sampai nasi itu habis. Melihat peristiwa tersebut, saya berdecak kagum dan sambil menulis artikel ini.

Saya mencari sebuah sarang semut yang cukup besar. Setelah saya ditemukan sarang semut tersebut, saya langsung menghancurkan sarang semut tersebut. Karena merasa sarangnya diganggu. Maka semut pun berhamburan keluar dan naik ke atas sepatu dan celana saya. Dan mulai melakukan pembalasan. Mereka menggingitnya dengan semangat. Tidak hanya satu tapi ratusan semutpun ikut membantu. Mereka tak peduli pada bahaya yang mengancam. Bisa jadi badan mereka hancur dan remuk oleh tangan sepatu saya.Lewat pengamatan tersebut saya menemukan banyak karakter positif dari semut. Dan hebatnya karakter semut yang seakan sudah menjadi filosofi hidup para semut, dapat dijadikan pedoman untuk bekerja. Memang filosofi itu sangat sederhana, namun jika kita dapat menerapkannya, kita akan menjadi pekerja handal yang luar biasa.So, simak deh filosofi semut yang hebat berikut ini:
  • Semut selalu bekerjasama
Coba kita perhatikan cara kerja semut, mulai dari mengangkat sebutir nasi sampai memakannya. Mereka selalu bekerja sama. Sebutir nasi yang cukup berat bagi semut, diangkat beramai-ramai ke tempat mereka. Begitu seterusnya hingga butiran nasi yang mereka angkut mencukupi kebutuhan makan mereka. Kemudian mereka akan menyantapnya pula bersama-sama. Kerjasama dan kekompakan para semut bisa Anda jadikan teladan. Misalnya, saat rekan kerja Anda kesulitan, apa salahnya kita membantu. Toh hasilnya bukan untuk kepentingan pribadi namun demi kepentingan kelompok atau bersama.
  • Semut saling peduli
Kebiasaan semut yang saling bersentuhan (mungkin dalam bangsa manusia, menegur atau bersalaman) jika bertemu, menandakan bahwa bangsa semut memiliki kepedulian dan keakraban yang tinggi. Mereka merasa bahwa tidak ada yang berbeda di antara mereka.Dalam dunia kerja, sentuhan yang berarti 'care' memberi arti tersendiri bagi karyawan. Bayangkan, apa jadinya jika di lingkungan kerja Anda, sudah tidak saling peduli? Sangat menyiksa bukan..?  So, sikap ini dapat ditumbuhkan untuk menjaga kekompakan dan menumbuhkan iklim kerja yang kondusif.
  • Semut tidak pernah menyerah.  
Bila kita menghalang-halangi dan berusaha menghentikan langkah para semut, mereka selalu akan mencari jalan lain. Mereka akan memanjat ke atas, menerobos ke bawah atau mengelilinginya. Mereka terus mencari jalan keluar. Suatu filosofi yang bagus, bukan? Jangan sekali-kali menyerah untuk menemukan jalan menuju tujuan kita sendiri.
  • Semut menganggap semua musim panas sebagai musim dingin.
Ini adalah cara pandang yang penting. Kita tidak boleh menjadi begitu naif dengan menganggap musim panas akan berlangsung sepanjang waktu. Semut- semut mengumpulkan makanan musim dingin mereka di pertengahan musim panas. Karena sangat penting bagi kita untuk bersikap realitis. Di musim panas kita harus memikirkan tentang halilintar. Kita seharusnya memikirkan badai sewaktu kita menikmati pasir dan sinar matahari. Berpikirlah ke depan, seperti halnya 'sedia payung sebelum hujan'.
  • Semut menganggap semua musim dingin sebagai musim panas.
Ini juga penting. Selama musim dingin, semut mengingatkan dirinya sendiri, "Musim dingin takkan berlangsung selamanya. Segera kita akan melalui masa sulit ini." Maka ketika hari pertama musim semi tiba, semut-semut keluar dari sarangnya. Dan bila cuaca kembali dingin, mereka masuk lagi ke dalam liangnya. Lalu, ketika hari pertama musim panas tiba, mereka segera keluar dari sarangnya. Mereka tak dapat menunggu untuk keluar dari sarang mereka. 

Dengan bahasa lain, filosofi semut dapat kita teladani di lingkungan kerja kita. Dengan menjaga kerjasama, kekompokkan, saling peduli, kerja keras,pantang menyerah, dan optimis memandang masa depan. Bagaimana? Tentu saja karena kita lebih hebat dari bangsa semut, kita bisa mencapai sukses yang luar biasa, jika kita berusaha! Sukses buat kita semua…!
Read More

Tuesday, 1 May 2012

Apa Sih Asyiknya Ngeblog?

Iya, apa sih asyiknya ngeblog?
Pertanyaan itu bukan hanya sering datang dari teman-teman kita yang belum mengenal apa itu blog, bahkan bagi kita yang sudah bisa dibilang uzur di dunia blogging pun kadang secara tak sadar kerap menanyakan hal yang serupa: apa sih ya asyiknya ngeblog?
Jawabannya pasti tak selalu sama, karena memang masing-masing blogger memiliki sudut pandang dan passion sendiri mengenai dimana letak keasyikan blog. Nah, mungkin komik sederhana berikut bisa menjelaskannya, check it out!
asyik%252520blog [Komik] Apa Sih Asyiknya Ngeblog?
Sudah jelas?
Belum? Kalau begitu segera buka dahsboard blog Anda dan publish tulisan sekarang juga. Eits, bukan hanya sekarang. Besok, lusa, esoknya lagi, esoknya lagi, pokoknya menulis dan publish setiap hari.. dan – seperti bapak yang satu itu selalu bilang – perhatikan apa yang terjadi.
Happy blogging!icon smile [Komik] Apa Sih Asyiknya Ngeblog?  

Komik : Darin
Read More

Tuesday, 10 January 2012

MENEMUKAN MAKNA HIDUP

Kesemuanya dharma (tindakan tepat), artha (keamanan sosial), kama (kenyamanan dasar) dan moksha atau kebebasan - lazimnya dianggap sebagai empat purushartha, empat pilar terpenting dari struktur kehidupan manusia.

Purusharta berasal dari bahasa Sansekerta, sebenarnya terdiri atas dua kata, purusha dan artha. Purusha biasanya diterjemahkan sebagai pria; tapi makna ini, dapat diperluas mencakup wanita juga. Jadi Purusha ialah keduanya, laki-laki dan perempuan - manusia. Artha dapat berarti kekayaan, uang dan bahkan makna. Ini ialah sesuatu yang memberi arti bagi hidupmu. Jadi keempat Purushartha semuanya memberi makna pada kehidupan.

Sekarang, anda tak harus menjadi orang Bali untuk setuju bahwa mereka, sejatinya, merupakan empat hal terpenting dalam hidup ini. Semuanya disebut pilar struktur kehidupan manusia. Kita semua butuh untuk tahu apa yang tepat dan apa yang tidak tepat. Kita semua membutuhkan sesuatu seperti keamanan sosial, kenyamanan dan kebebasan. Itulah kebutuhan dasar dan lazim dari semua manusia.

Bagaimana kita memenuhi kebutuhan itu?

Bagaimana kita menggapainya?

Leluhur kita menasehati kita untuk memulainya dengan dharma. Seseorang harus tahu apa yang tepat, dan apa yang tidak tepat dilakukan. Dengan pemahaman semacam ini, seseorang harus memperoleh kemampuan yang dibutuhkan dan keahlian untuk menjalankan bidang tindakan yang dipilih.

“Dahulukan yang penting,” begitulah nasehat yang dipopulerkan Stephen Covey. Pertama, kita harus mendapatkan dharma. Tanpa kebijaksanaan untuk memilah apa yang tepat dan apa yang tak tepat, kita tak dapat berhasil dalam hidup. Dan untuk mengembangkan kebijaksananaan semacam itu, sangatlah penting bahwa kita memiliki sebuah pikiran yang tajam dan kemauan untuk belajar.

Kebijaksanaan ialah buah dari pembelajaran. Kita belajar dari buku. Kita juga belajar dari mengamati orang lain dan pengalaman hidup mereka. Yang terpenting, kita belajar dari pengalaman kita sendiri. Dalam beberapa tahun pertama kehidupan kita, kita belajar dengan mengamati orang lain. Itu yang kita lakukan saat kita masih anak-anak. Kita tak dapat membaca; kita tak bisa menulis; tapi kita bisa mengamati. Membaca dan menulis datang kemudian - yang pertama ialah observasi.

Anak-anak, yang kekurangan kemampuan pengamatan ini umumnya tak terlalu ingin tahu. Mereka tidak banyak bertanya. Kita mungkin menganggapnya sebagai anak yang bertipe pendiam. Kita mungkin merasa senang dengan hal tersebut, karena mereka tak menggangu kita seperti halnya tipe anak yang suka bertanya. Kendati demikian, hal ini tak bagus. Anak-anak yang kurang observasi tak hanya tumbuh secara kurang bijaksana, tapi juga kurang dinamis. Inilah alasan kenapa kita mempunyai banyak motivator di hari-hari belakangan ini. Sebagian dari kita yang kurang mengobservasi saat masa kanan-kanak tak bisa melakukan apa-apa tanpa mereka. Kita pelu dimotivasi, dan didorong untuk mencapai tujuan kita dalam kehidupan, untuk memenuhi dan meraih segalanya.

Amati anak-anak anda dan periksa seberapa kerap ia melakukan observasi. Anak yang observan bukanlah anak yang nakal dan bandel, tapi ia yang selalu bertanya, “apa ini? apa itu?”. Ini ialah pikiran yang bertanya yang membantu anak mekar menjadi manusia yang utuh. Tanpa pikiran yang bertanya, kita tetaplah separuh manusia. Pikiran yang kritis bertanya, kendati demikian, tak dapat diperbudak. Memang ada komunitas, masyarakat dan sistem sosial yang tak suka dengan pikiran yang kritis. Mereka melecehkan intelegensia. Mereka mengharapkan pikiran yang tumpul yang dapat diarahkan dan dikuasai. Penguasa di manapun, dan di bidang apapun menentang orang cerdas, karena mereka tak bisa diperbudak.

Purushaartha, seperti yang diwariskan leluhur kita, ialah bukan untuk para budak. Selain perbudakan, mereka tak punya pilihan lain dalam hidup. Perbudakan ialah satu-satunya makna dalam hidup mereka. Mereka tak dapat meraih dharma, artha, kama dan moksa. Mereka tak bebas melakukan apapun. Mereka telah diperbudak begitu lama sehingga mereka tak lagi merasa berharga, atau bahkan memahami, arti kebebasan dan kemerdekaan itu sendiri. Sayangnya, perbudakan bukan tradisi yang usang dan mati. Pada zaman Musa perbudakan begitu kasat mata dan dan tumbuh subur. Sekarang kita mempunyai penguasa genre baru. Di mana pemerintah tak lagi kejam, ekonomi, sosial, religius dan institusi yang sejenis lainnya menjadi para penguasa baru. Mereka dapat mengontrol pemerintah dari balik layar sehingga tetap terlihat

Untuk menggapai keempat purushaartha ialah untuk mematahkan rantai perbudakan, dan membebaskan pikiran kita. Tapi seperti yang telah saya katakan, jika kita terlalu lama dipebudak, kita bahkan bisa jadi tak memahami arti kebebasan. Kita mungkin malah menikmati perbudakan, dan merasa nyaman. Oleh sebab itu, dari waktu ke waktu, kita membutuhkan seorang Musa atau seorang Muhammad, seorang Buddha atau seorang Krishna, seorang Washington atau seorang Gandhi untuk menunjukan pada kita jalan keluar dari pebudakan.

Para mesias, nabi, manusia tuhan, avatar atau apapun sebutan anda bagi mereka sebenarnya “orang bebas.” Mereka mengetahui arti kebebasan. Mereka ialah manusia dengan pikiran yang tajam dan intelegensia super. Mereka bisa merangkul keempat Purushartha dan menghayati kehidupan dengan gayanya sendiri. Dan mereka hendak berbagi dengan kita jenis kebebasan yang mereka nikmati. Mereka menghampiri kita untuk menunjukkan pada kita jalan keluar dari perbudakan.

Ya, itu ialah apa yang mereka tepatnya lakukan. Mereka “menunjukkan” pada kita jalan menuju kebebasan, kemandirian, kemerdekaan dan keadilan untuk semua. Kita masih harus menapaki jalan itu. Mereka tak bisa berjalan untuk kita.
Read More

Saturday, 25 June 2011

Tumpek Bubuh

BAGI orang Bali memelihara kelestarian lingkungan merupakan kewajiban suci. Kewajiban ini sebagai pengamalan ajaran agama Hindu dengan melaksanakan upacara Tumpek Bubuh atau disebut juga dengan nama Tumpek Pengarah, Tumpek Uduh, Tumpek Wariga. Sesaji upacara Tumpek Bubuh ini dipersembahkan ke hadapan Sang Hyang Widhi dalam manifestasinya sebagai Dewa Sangkara, Dewa penguasa tumbuh-tumbuhan.

Upacara Tumpek Bubuh adalah upaya menyadarkan manusia, bahwa masalah ekologi dan lingkungan hidup harus mendapat perhatian yang baik, karena akan menentukan baik buruknya kelangsungan hidup manusia. Segala benda, zat organis dan manusia yang hidup dalam suatu lingkungan mempunyai hubungan timbal balik, saling mempengaruhi. Ekosistem yang baik akan menjamin kehidupan manusia langgeng, bila ekosistem rusak, musnahlah kehidupan di muka bumi ini.




Untuk terjaganya ekosistem yang baik, Bhagawan Wararuci dalam kitab Sarasamuccaya mengingatkan umat manusia agar selalu menjaga kelestarian lingkungan. "Kesejahteraan semua makhluk, lingkungan, atau alam semesta itulah hendaknya selalu engkau usahakan, baik sedang berjalan, duduk, bangun atau tidur sekali pun.'' Ajaran ini lebih jauh diuraikan dalam falsafah Tri Hita Karana.

Karena itu, keseharian hidup umat Hindu dalam menjaga lingkungan tak kalah serius dengan apa yang dilakukan oleh para pecinta lingkungan di seluruh dunia. Di sembarang tempat bisa dijumpai sebuah pohon besar di pinggir jalan atau di ladang dihiasi kain poleng (kain kotak-kotak hitam putih) dan diberi sesaji. Hal ini sebagai petunjuk agar manusia selalu sadar menjaga hubungan yang harmonis dengan alam semesta beserta segala isinya.

Dampak Pariwisata

Sebagai daerah tujuan wisata Bali kini menghadapi berbagai masalah lingkungan yang merupakan dampak negatif pariwisata. Pakar lingkungan seringkali mengingatkan, berkembangnya industri pariwisata di satu sisi berdampak negatif di sisi lain pada lingkungan alam (perubahan flora-fauna, pencemaran, penurunan kualitas sumberdaya alam serta rusaknya fasilitas) dan lingkungan buatan (penurunan kualitas lingkungan perkotaan, dampak visual, penurunan kualitas infrastruktur, berubahnya bentuk kota, restorasi dan kompetisi). Dampak pembangunan pariwisata terhadap lingkungan fisik sangat mudah dilihat baik yang terjadi pada tanah, air maupun udara.

Mengutip Anthony S. Travis, faktor-faktor penting untuk mengetahui dampak negetif pariwisata terhadap lingkungan adalah, (1) perusakan dan pencemaran, pada umumnya yang terjadi pada air, termasuk air tanah serta air permukaan, tanah dan udara, (2) perubahan penggunaan lahan, lahan pertanian, kehutanan yang dibabat menjadi fasilitas, sarana atau prasarana pariwisata, sehingga pada awalnya lahan produktif menjadi non-produktif, (3) hilangnya flora dan fauna, banyaknya wisatawan yang berkunjung ke suatu daerah pariwisata dapat mengakibatkan terganggunya flora atau fauna yang kemudian meninggalkan habitatnya untuk mencari tempat yang lebih aman, (4) meningkatnya urbanisasi, yang secara tidak langsung mengakibatkan perubahan pandangan terhadap tata guna lahan kota, terutama yang diakibatkan oleh pembangunan fisiknya.

Apa yang terjadi di Bali saat ini memang tidak jauh dengan faktor-faktor yang disebutkan Travis. Paradigma pembangunan selama tiga dasa warsa yang bersifat growth oriented, top down dan sentralistis, telah melahirkan sikap arogan dan kebablasan dalam pengembangan obyek wisata, sehingga lingkungan Bali kini makin mengkhawatirkan. Banyak obyek wisata yang dikembangkan mencaplok lahan puluhan hektar dan telah menggusur atau setidaknya mengganggu keberadaan tempat-tempat suci (parahyangan) yang terdapat di lahan tersebut. Ada juga yang mencaplok kawasan pantai, kemudian menutup fungsi pantai sebagai tempat suci bagi orang Bali dalam prosesi upacara melasti, upacara menyucikan alam semesta dan menyucikan diri sendiri. Selain itu, entah berapa banyak pohon besar yang menyangga paru-paru Bali telah ditebang, sehingga muncul kekhawatiran, jangan-jangan Bali suatu saat berubah menjadi pulau gersang mirip Ethiopia.

Keharmonisan hubungan manusia Bali dengan Yang Maha Suci kini mulai terganggu, sehingga secara langsung berpengaruh buruk kepada sikap dan perilaku orang terhadap lingkungan dan sesamanya (pawongan). Para pendatang yang menyerbu Bali di tengah krisis ekonomi yang melilit negara kita, ikut menyumbang berbagai problem sosial dan lingkungan. Kita saksikan keasrian Bali kini makin pudar dan banyak ditumbuhi bangunan-bangunan yang tidak sesuai tata ruang dan bangunan kumuh di tempat-tempat strategis. Di tengah krisis multidimensional melanda negara kita, banyak investor yang dulu menggebu-gebu membebaskan tanah, kini menghilang entah ke mana. Akibatnya banyak lahan yang dulu subur, sekarang berubah menjadi lahan tidur yang diselimuti alang-alang atau tanaman yang tidak berguna. Lahan tidur ini telah mengganggu sistem irigasi Bali dan secara perlahan membunuh organisasi subak yang diandalkan menjaga kestabilan persediaan pangan di Bali. Pada gilirannya mengganggu sistem sosial budaya masyarakat Bali yang religius.

Aktualisasi

Kini diperlukan langkah nyata, mengembangkan paradigma baru pembangunan pariwisata seiring dengan dilaksanakannya otonomi daerah. Pakar dan praktisi kepariwisataan di Bali menganjurkan paradigma pembangunan pariwisata kerakyatan berkelanjutan. Paradigma pembangunan pariwisata ini menggunakan pendekatan peran serta masyarakat, pengembangan kepariwisataan berkelanjutan, dan kepariwisataan kerakyatan. Dengan paradigma baru ini, masyarakat diberdayakan agar dapat berperan secara aktif dari tahap awal, sehingga dampak negatif pariwisata terhadap lingkungan fisik maupun sosial bisa dihindari. Pariwisata, seperti diungkapkan Sekjen WTO, Francesco Frangiali, adalah salah satu sahabat baik lingkungan. Ini berarti pariwisata selain ikut menentukan pendapatan suatu negara, juga sebagai persekutuan organisasi baik bersifat nasional maupun internasional dalam usaha menyelematkan lingkungan dan usaha pelestarian alam.

Oleh karena itu, pembangunan pariwisata kerakyatan berkelanjutan perlu didukung langkah-langkah mengaktualisasikan nilai-nilai luhur ajaran agama Hindu yang menjiwai budaya Bali. Pemahaman masyarakat Bali, termasuk semua orang yang kini bergelut dalam industri pariwisata di Bali, tentang makna Tumpek Bubuh harus diaktualisasikan, sehingga pengamalannya tidak berhenti sebatas upacara, persembahan sesaji atau sebatas wacana di kalangan praktisi dan pakar pariwisata. Melainkan dapat berbuat nyata menyelamatkan dan melestarikan lingkungan setiap hari atau setiap saat di seluruh pelosok Bali. Seluruh peraturan daerah (Perda) tentang pembangunan pariwisata berwawasan lingkungan harus dipatuhi semua orang. Memberikan sanksi hukum tanpa pandang bulu bagi pelanggar peraturan tentang lingkungan adalah salah satu wujud aktualisasi makna Tumpek Bubuh.

Meningkatkan pemahaman dan memperbarui cara kita mengamalkan makna Tumpek Bubuh sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan pariwisata kerakyatan berkelanjutan, adalah tanggung jawab kita bersama. Sejauh mana kita mau dan mampu, waktu atau zaman yang akan membuktikannya.
Read More

Saturday, 14 August 2010

SEMUT SANG PEMBERI PELAJARAN

Semut merupakan binatang yang memiliki ukuran fisik/tubuh kecil. Semua orang pasti mengenal semut serta kebiasaan-kebiasaannya. Ada banyak jenis semut yang hidup di dunia ini. Entah ada berapa puluh jenis bahkan mungkin bisa ratusan atau mungkin ribuan, saya tidak tahu. Semut biasanya tinggal di tempat-tempat yang ada sumber makanannya. Hal itu wajar, karena jika tidak ada sumber makanan, maka mungkin mereka akan kelaparan.
Walaupun semut memiliki ukuran fisik yang kecil, tetapi mereka bisa memberikan pelajaran berharga bagi manusia. Seandainya kita bisa mengerti bahasa mereka, mungkin kita akan tahu apa yang mereka bicarakan. Sebagai manusia yang awam, saya mempunyai analisa sendiri tentang kebiasaan semut-semut itu. Semua ini hanya saya sandarkan pada kebodohan dan kejahilan diri saya.

Beberapa hal yang bisa saya ambil hikmah dari kebiasaan-kebiasaan semut ini, diantaranya :

1. Semut biasanya pada saat berpapasan akan berhenti sejenak dengan kepala yang saling berdekatan.
Kebiasaan semut berhenti sejenak dalam berpapasan dan saling mendekatkan kepalanya, ini memberikan pelajaran pada kita bahwa bertegur sapa adalah hal yang mulia. Hendaknya kita memberikan salam kepada siapa pun yang berpapasan dengan kita, menegur dengan suara lembut dan memberikan senyuman dengan penuh keikhlasan. Saling mendo’akan ketika bertemu dengan orang lain akan membuat kita berada dalam keberkahan. Orang sunda bilang dalam kiasannya “bahasa mah henteu meuli” atau dalam bahasa Indonesianya “bahasa itu enggak beli” alias gratis. Jadi apa yang membuat diri kita susah untuk bertegur sapa atau hanya sekedar mengucapkan salam dengan orang yang berpapasan dengan kita?

2. Biasanya semut berjalan pada arah yang sejalan atau sepertinya punya jalur khusus untuk rute perjalanannya.
Kebiasaan semut berjalan pada jalurnya, mungkin hal ini sebagai isyarat bagi kita agar selalu berjalan pada arah yang telah ditentukan. Jalan ini tentu saja jalan kebenaran sebagai jalur hidup kita. Jika kita keluar jalur, hal ini akan membuat diri kita salah jalan yang akhirnya tidak tahu kemana arah kita sesungguhnya. Tetapi dengan jalur yang benar, maka akan membuat kita sampai pada tujuan dengan selamat. Tapi siapakah yang memberi jalan semut-semut tersebut, apakah sang raja semut atau siapa? Yang pasti bahwa pemberi jalan buat manusia hanyalah Tuhan.

3. Pada saat salah satu semut menemukan makanan, secara otomatis teman-temannya berdatangan dengan cepatnya.
Kita sering melihat jika ada makanan yang berserakan maupun makanan yang tersimpan rapi. Maka, jika ada satu semut menemukannya, maka pasukannya akan segera berdatangan. Lalu bagaimana semut-semut itu tiba-tiba berdatangan dengan cepatnya. Kita tidak mengetahui bagaimana itu terjadi, apakah dengan bahasanya mereka menyuarakan bahwa ada makanan atau bagaimana?
Apapun yang terjadi kepada mereka kita tidaklah mengetahuinya, yang penting ada satu pelajaran berharga yang bisa kita sikapi. Pada saat satu semut menemukan makanan, maka yang lainnya datang. Hal ini memberi pelajaran kepada kita, seandainya kita punya makanan, alangkah baiknya kalau tetangga dan sanak saudara kita juga ikut kebagian menikmatinya. Kita tidak boleh berbuat kikir sehingga tetangga kita kelaparan. Janganlah kita memakan sendiri apa yang kita dapat melainkan untuk bisa saling berbagi, saling memberi dan saling membahagiakan.

4. Kebiasaan semut membawa makanan ke sarangnya pada saat menemukan makanan.
Salah satu kebiasaan unik lainnya adalah membawa makanan ke sarangnya. Terkadang makanan yang besar ia bawa secara gotong royong sampai ke sarangnya. Dan untuk makanan yang kecil, mereka bawa sendiri-sendiri ke sarangnya tanpa mampir dulu di jalan untuk menikmatinya sendiri terlebih dahulu. Ada banyak pelajaran yang bisa kita ambil dari kebiasaan semut yang satu ini.
Pertama, sifat kegotong royongan mereka yang begitu tinggi. dimana ada pekerjaan yang besar dan menyangkut kepentingan bersama, mereka bahu membahu melakukannya dengan tidak mengenal lelah. Mereka tetap membawa makanan berharga itu walaupun mungkin perutnya lapar. Mungkin mereka pikir akan terasa indah bila bisa menikmatinya bersama-sama dalam sarangnya.
Kedua, sifat kesetiakawanan mereka yang luar biasa, ketika ada yang memerlukan bantuan mereka dengan cepat membantu rekannya yang sedang ditimpa kesusahan, yaitu pada saat menanggung beban berat. Mereka tidak duduk manis sambil menonton temannya berjuang keras dalam menghadapi permasalahannya. Begitu juga dengan kita, hendaknya dapat merasakan apa yang orang lain rasakan. Sehingga kita tidak berbuat semena-mena terhadap orang lain dan senantiasa kita selalu menjaga sikap kesetiakawanan kita.
Ketiga, sifat kejujuran yang mereka tanamkan, makanan kecil yang ia bawa, bisa saja ia bawa lari sendiri dan menikmatinya sendiri. Akan tetapi kita sering melihat mereka tetap membawa makanan kecil secara teratur ke sarangnya. Hikmah yang bisa ambil dari hal ini adalah kita seharusnya bersikap jujur pada saat kita dititipi amanah. Jangan menguranginya apalagi tidak menyampaikannya.
Keempat, belas kasihan diantara sesama mereka, apa yang mereka bawa mungkin saja ada semut yang sedang sakit sehingga memerlukan makanan atau ada semut-semut kecil yang baru tumbuh dan menginginkan makanan untuk pertumbuhannya. Begitupun dengan manusia, apabila ada Saudara kita yang kelaparan, maka selayaknyalah kita memberikan apapun yang kita punya agar rasa lapar mereka hilang.
Kelima, persembahan untuk sang Raja, kita tidak tahu apakah mereka melakukan hal itu (membawa makanan ke sarangnya) karena ingin mempersembahkan makanan tersebut pada sang Raja atau bagaimana. Kalaupun ia, maka disinilah mereka memberikan pelajaran pada kita bahwa kita harus mempersembahkan yang terbaik pada Sang Khalik. Persembahan kita kepada Sang Khalik, tentunya bukan dengan memberikan makanan atau apa pun, karena Sang Khalik tidak memerlukan makanan dan minuman, melainkan kita dapat mensyukuri nikmat-Nya dengan cara bersedekah dan beramal.

5. Ketika kita mengganggu semut, maka mereka akan menggigit bahkan menyengat kita.
Ada hikmah yang bisa kita ambil dari kebiasaan semut seperti ini. Pelajaran untuk tidak mengganggu orang lain terlebih orang yang tidak memiliki kuasa, baik itu miskin, cacat, jelek atau pun ketidak sempurnaan yang lainnya. Jika kita menggaggu bahkan menyakiti mereka, sesungguhnya doa mereka termasuk doa yang cepat dikabulkan, yaitu orang-orang yang teraniaya akibat perilaku buruk kita pada mereka. Pelajaran lain pada kebiasaan ini adalah mereka membalas perilaku buruk kita pada mereka dengan bereaksi langsung. Hal ini tentunya bukan berarti kita harus membalas apa yang telah mereka perbuat terhadap kita.

Semut disini memberikan gambaran bahwa mereka pun bisa mengingatkan manusia pada saat manusia mengganggu dirinya, dengan menggigit atau menyengatnya. Ini memberikan gambaran pada kita bahwa orang-orang kecil ini bisa menyengat atau pun menghancurkan orang-orang yang telah menganiayanya dengan doanya yang makbul.
Apa yang saya tulis, hanyalah tulisan yang didasari oleh persepsi seorang yang bodoh dan awam terhadap agama dan tentunya sebagai manusia yang hanya bisa menebak apa yang mereka perbuat, karena kita tidak diberikan kemampuan untuk mengerti bahasa mereka. Jika perkataan saya benar, hal itu semata-mata dari Tuhan sebagai pemilik mutlak kebenaran, dan jika perkataan saya salah, maka hal itu semata-mata karena kekurangan dan kobodohan saya. Paling tidak kita bisa mendapatkan pencerahan bagaimana cara bersikap dan bertingkah laku terhadap sesama manusia. Semoga tulisan ini bermanfaat dan kita menjadi orang-orang yang beruntung, Astungkara.

"Banyak sekali manfaat yang kita dapat dari sebuah tulisan yang mengambil contoh kecil , yaitu seekor semut.. begitu maha besarnya Hyang Widhi yang telah memberikan kita kemampuan untuk selalu berfikir dengan sebaik mungkin , maka dari itu mulailah dari sekarang dengan sesama manusia saling bertegur sapa dan saling tolong menolong.
maka jadikan cerita ini resensi bagi hidup kita. "
Read More

Friday, 13 August 2010

Buku Cincin Merah di Barat Sonne


Melihat dari judulnya saya sudah tidak sabar untuk membuka, apakah setiap ceritanya akan mirip seperti Laskar Pelangi dan Sang Pimpi karya Andrea Hirata? atau Perahu Kertas karya Dewi Lestari? atau mungkin novel terjemahan Twilight karya Stephenie Meyer? Semuanya tidak ada yang mampu menjawab.
Cincin Merah di Barat Sonne. Sebuah buku yang membawa kita ikut hanyut dalam setiap cerita yang dituliskan. Seoalah olah saya sendiri dapat melihat kejadian itu, pengalaman yang seru dan menegangkan. Pengetahuan tentang geodesi di masukkan dengan sangat atraktif (meskipun saya kurang tahu betul tentang ilmu geodesi), sehingga kita menjadi lebih gampang untuk memahami apa maksudnya. selain itu dalam buku ini syarat dengan nilai sosial dan cinta kasih.
dalam cerita juga dimasukkan beberapa cerita lucu. Setiap bagian cerita menjadi tidak monoton, karena terkadang kita terhibur dengan adanya cerita yang kocak, namun kita akan merasa haru ketika membaca beberapa bagian yang menyentuh hati.
Saya sempat mencari di paman google, apa sih Sonne itu? banyak pengertian yang saya dapatkan, ada yang menyebutkan matahari, ada juga cincin. Ketika kita hunbungkan dengan judulnya jadinya aneh. Namun semua itu terjawab ketika saya membaca buku CMDBS ini. keren.
Dalam cerita, ketika kita berada di tengah lautan yang luas, dihadapi oleh cobaan, ketika kita mengingat dan melaksanakan kewajiban, merenungi nasib, memikirkan sanak dan saudara, orang tua, keluarga, sedikit humor yang syarat akan makna, kecintaan kepada tanah air, semuanya terangkum dan diceritakan dengan lugas dan bahasa yang sederhana, sangat mudah untuk dipahami dan syarat akan makna.
Keindahan laut tergambar nyata, dalam rangkaian kata yang terus mengalir, si penulis berkisah layaknya mendongeng. Semua kejadian selama 28 hari diceritakan dengan sangat runtut, sangat seru untuk dinikmati. Setiap bagian cerita rasanya tidak habis kita nikmati membuat kita menjadi penasaran.

Keren sekali Wigus. Semoga cerita ini dapat di Filmkan, hehe..
Untuk berikutnya buat kisah mulai dari Desa Tegaljadi hingga keliling dunia. Pasti bakal seru dan Motivatif, apalagi ditulis dengan sangat sederhana.
Read More